Pandan Untuk Kerajinan

Teman-teman pasti sudah tahu pandan, kan? Terutama yang ibu-ibu nih. Pandan banyak dijumpai di sekitar kita untuk menambah aroma harum masakan. Pandan juga sekaligus digunakan sebagai pewarna hijau alami makanan, dan jika kurang pekat, bisa dikombinasikan dengan daun suji. Daun pandan ditanam di halaman rumah karena di pasar mulai jarang ditemukan. Pandan tumbuh dengan mudah dan bisa untuk mempererat tali silaturahim dengan tetangga yang memerlukannya. Heheheee....

Selain di sekitar rumah, pandan juga tumbuh liar di kebun-kebun dan hutan. Jenisnya memang beda. Yang banyak terdapat disekitar rumah adalah yang daunnya lebih kecil dan pendek. Ibu-ibu hanya memanfaatkan daun yang muda karena wanginya lebih semerbak. Sedangkan yang tumbuh liar daunnya lebih lebar dan panjang, warna hijaunyapun lebih tua. Sumber daya alam yang berlimpah tersebut menjadi produk bernilai jual tinggi di tangan pengrajin.

Jika kita masih suka pernak-pernik rumah berbahan plastik yang awet, tidak demikian dengan masyarakat negara-negara maju. Perabotan atau pernak-pernik rumah yang berbahan ramah lingkungan sudah lama menjadi gaya hidup mereka. Berbahan ramah lingkungan itu maksudnya, ketersediaannya berlimpah di alam dan prosesnya tidak merusak alam. Pandan adalah salah satunya.

Secara tradisional, pandan sudah lama kita kenal dalam bentuk tikar. Tapi sebagai bahan baku kerajinan, pandan dalam bentuk anyaman bisa juga dibuat tas, map, sepatu dan storage box.

Sebagai tikar atau produk kerajinan lainnya, pandan tidak lagi berwarna hijau alami karena telah mengalami proses produksi yang panjang. Proses tersebut dimaksudkan agar pandan memiliki lebar yang sama, mudah dianyam, mudah dibentuk dan awet. Sentra pandan di pulau Jawa cukup banyak, tapi yang pernah bekerjasama adalah Tasikmalaya dan Gombong. Meski demikian, yang berhasil memanfaatkannya dalam industri kerajinan untuk dijual retail di dalam negeri hingga di ekspor keluar negeri adalah para pengusaha kerajinan yang berada di Jogja.

Pandan untuk industri kerajinan didatangkan ke Jogja menggunakan truk-truk, baik dalam bentuk bahan mentah maupun sudah siap dianyam. Jika dalam bentuk bahan mentah, pandan harus terlebih dulu diseseti (dihilangkan bagian durinya). Coba perhatikan, pandan yang digunakan ibu-ibu masak itu sebenarnya juga ada durinya tapi tidak setajam pandan yang digunakan untuk kerajinan. Setelah itu pandan direbus untuk menghilangkan getah dan diangin-anginkan. Supaya mudah dianyam, pandan dimemarkan, lalu direndam dalam air. Proses selanjutnya adalah penjemuran hingga warnanya terang sehingga ketika diwarnai, bisa sesuai seperti yang diinginkan.

Untuk kerajinan yang dijual di toko-toko, sepertinya proses tersebut cukup ribet dan lama ya? Nah, apalagi untuk ekspor yang biasanya minimal untuk memenuhi satu kontainer 20 feet. Untuk ekspor, pengusaha mengkombinasikan antara handmade dengan penyediaan alat bantu yang memadai, misalnya tungku yang besar untuk perebusan, oven untuk jika matahari tak bersinar dan kompresor untuk penyemprotan lem dalam proses penutupan kerangka dengan anyaman.

Untuk memastikan prosesnya juga ramah lingkungan, buyer akan menetapkan jenis-jenis pewarna dan lem yang boleh digunakan. Buyer besar seperti Ikea atau H & M, malah meminta pengusaha kerajinan mengikuti SOP (Standar Operating Procedure) tertentu, misalnya tata cara pembuangan limbah sisa pewarnaan, arus udara ketika melakukan penyemprotan lem dan sebagainya. Kita sebagai pemilik sumber daya alam dan lingkungan tempat produk brand-brand dunia itu diproduksi mestinya sudah memiliki kesadaran untuk memelihara lingkungan tanpa diminta, karena kita hidup ditengah-tengahnya. Jangan sampai kita menerima uang dari produksi tersebut, tapi harus membayar lebih mahal lagi untuk kesehatan kita.

Jika masyarakat negara-negara maju menyukai produk-produk ramah lingkungan, apakah kita juga demikian? Padahal jika mau, sisa-sisa ekspor (kadang ada kelebihan ketika memproduksi untuk pesanan ekspor) bisa kita beli di pasar atau toko kerajinan dengan harga murah. Semua barang itu kelihatan bagus bukan hanya karena merknya semata, tapi juga dari cara kita memakai. Mencangklong tas pandan bisa kelihatan keren banget, asal pede :D

Repost dari www.burselfwoman.com
Share on Google Plus

About Lusi T

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment

Maaf komentar dimoderasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.