Inovasi Kerajinan Khas Melayu

Saya resah. Bagaimana tidak? Sebagai pencari nafkah nasi di kota ini, stan saya dipenuhi oleh produk-produk kerajinan buatan para pengrajin Jogja. Demikian pula dengan etalase online saya di www.ladakahandicraft.com. Meski para pengunjung stan maklum karena bagaimanapun juga pengrajin asal Jogja sangat kreatif sehingga mampu memasarkan produknya ke seluruh nusantara bahkan keseluruh dunia, tapi saya tetap merasa ada yang tidak pas. Ketika saya berlibur ke pulau Samosir di Sumatra Utara, souvenir Jogja mendominasi pasar-pasar oleh-oleh. Demikian pula ketika membaca laporan saudara saya yang mengikuti pameran Ambiente di Jerman, pengusaha Jogja-lah yang mendominasi stan dari Indonesia.

Saya berpikir, jika saya mencari nafkah disini (Pekanbaru, Riau), maka saya harus memiliki manfaat pula bagi pengrajin setempat. Pepatah Melayu mengatakan: Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Setelah survey, saya mendapati perbedaan yang sangat signifikan antara kerajinan Jogja dengan kerajinan setempat. Kerajinan Jogja, apapun motifnya, bisa diaplikasikan dengan bebas disemua media. Kehadirannya dalam keseharian tidak hanya sebagai perlengkapan seremonial dan pajangan tapi juga memiliki fungsi yang fleksibel. Sementara kerajinan setempat masih bersifat seremonial, jarang yang fungsional, sehingga kebutuhannya kurang melekat dalam keseharian kita.

Tapi apa yang bisa saya lakukan? Saya tidak banyak mengenal pengrajin setempat. Kenalan saya hanya ibu-ibu yang biasa pameran bareng di mall. Tapi rupanya Allah memberi jalan. Seorang bapak yang sangat sederhana bernama pak Nazmi mendatangi saya. Beliau datang atas rekomendasi ibu-ibu teman pameran saya. Beliau adalah pengrajin binaan Dekranas tapi masih coba-coba dan belum tau apa yang bisa dilakukannya. Beliau lalu menunjukkan kerajinan buatannya berupa kotak-kotak dan gantungan kunci. Saya terkejut karena buatannya sangat buruk. Tapi ada satu hal yang membuat saya tidak mundur yaitu karena pak Nazmi sangat terbuka dengan berbagai saran saya.

Saya sarankan beliau untuk konsisten di satu bahan saja, yaitu kain batik khas Melayu. Lalu saya sarankan beliau tidak lagi membuat kotak atau box. Saya minta beliau melihat sendiri kotak buatan Jogja yang saya jual, yang sangat rapi dan kuat. Beliau tidak memiliki ketrampilan untuk membuat itu. Lalu saya sarankan untuk membuat aksesoris dan tempat tissue. Tadinya beliau tidak memiliki gambaran apa yang harus dibuat. Lalu sarankan untuk membuat bros, bando dan jepit rambut. Ini karena di stan saya memang belum ada, jadi beliau tidak harus bersaing dengan produk yang saya ambil dari Jogja. Beliau setuju meski tampak masih takut dipersalahkan Dekranasda karena mengaplikasikan bahan di media yang tidak sesuai dengan pakemnya.

Tak lama kemudian beliau kembali dan membawa semua yang saya sarankan. Meski belum seperti yang saya inginkan karena bentuknya masih sangat sederhana dan tidak rapi, tapi semua produk itu tetap saya terima dan saya pajang. Yang saya sukai dari beliau adalah beliau tidak mau hanya menitipkan produknya pada penjaga stan saya, melainkan harus bertemu dengan saya. Beliau selalu meminta komentar apa yang kurang dari produknya. Beliau masih ragu karena pikirnya apa mungkin produk-produk sederhana seharga Rp 5.000 – Rp 10.000 bisa laku di mall?

Meski pelan, tapi produk beliau akhirnya habis juga dan saya memintanya untuk menambah lagi. Beliau senang bukan main. Dan terus mengembangkan produknya sehingga lebih bagus dan lebih semarak jika dipajang, sesuai dengan ciri khas batik Melayu yang berwarna cerah ceria. Tak terasa sudah hampir dua tahun kami bekerja sama. Banyak kemajuan yang dicapai pak Nazmi. Produknya sekarang sudah mulai dikemas rapi dan dipasarkan tidak hanya di stan saya saja tapi juga di toko buku Kharisma dan pasar Bawah atau pasar Wisata. Mungkin produk beliaulah satu-satunya produk aksesoris murah meriah khas Melayu yang berhasil dipasarkan di mall. Obsesinya membuat gantungan kunci dompet yang bisa dimasuki koin juga akhirnya terwujud Lebaran lalu setelah setahun berjuang mencari informasi dimana mendapatkan alat pemasang kancing. Salah satu kendala pengrajin Pekanbaru memang peralatan kerja, yang oleh pengrajin Jogja sangat mudah didapat.

Salah satu yang saya tekankan pada pak Nazmi adalah jangan hanya menjadi pengrajin kecil tapi dekatilah Dekranasda atau Disperindag agar mendapat fasilitas pelatihan, modal dan bantuan pameran. Saya tidak bisa mendapatkan itu karena bukan penduduk tetap, tapi pak Nazmi harus bisa. Meski memang sudah dibina Dekranasda, boleh dibilang sebelumnya tidak terlalu aktif. Mungkin karena beliau merasa kurang ada manfaatnya karena tidak langsung dikaitkan dengan bisnis yang sebenarnya. Tapi saya tekankan pada beliau bahwa manfaatnya sangat banyak dan bahwa kita tidak bisa hanya mengandalkan satu institusi saja untuk berkembang. Semua tergantung ketekunan kita mencari ilmu dan kesempatan pada beberapa pihak. Meski beliau sederhana, tapi pandangan beliau yang selalu terbuka itu akhirnya bisa menerima saran itu dan sekarang sudah mengikuti beberapa pelatihan oleh Dekranasda dan Disperindag. Apalagi dua anak beliau yang dulu selalu dibawa jika bertemu dengan saya sudah agak besar dan bisa ditinggal untuk pelatihan selama beberapa hari. Oh iya, pelatihan seperti itu biasanya mendapat uang saku lo, jadi pengrajin kecil tidak akan dirugikan jika harus meninggalkan pekerjaannya.

Ada satu peristiwa yang membuat saya tersenyum, yaitu ketika beberapa bulan lalu mengajak teman saya yang warga tempatan datang ke stan saya. Dia dengan sinis mengatakan, “Kirain kerajinan khas Melayu yang seperti apa? Ternyata cuma seperti ini. Memangnya laku?”

Saya jelaskan bahwa kerajinan khas Melayu milik pak Nazmi ini termasuk yang laris. Diapun terkejut. Kemarin, teman saya itu menghubungi saya meminta alamat pak Nazmi karena EO tempatnya bergabung sedang mengadakan pemilihan penghargaan pengusaha tempatan tapi yang produknya memiliki konten lokal. Saya langsung memberikan nomor telepon pak Nazmi. Tapi dari situ saya semakin yakin bahwa hal sepele yang saya lakukan ada manfaatnya, karena ternyata pengrajin khas Melayu yang berani menggelar produknya di mall memang tidak banyak. Buktinya untuk pemilihan penghargaan sebesar itu juga memasukkan pak Nazmi, pengrajin kecil yang karyanya dulu disebutnya “cuma seperti ini.” Semoga pak Nazmi yang menang.

Repost dari www.burselfwoman.com
Share on Google Plus

About Lusi T

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment

Maaf komentar dimoderasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.