Crochet Knitting, Menyongket Merajut

Susah menulis crochet knitting. Untung ada auto dictionary, jadi kalau tulisannya salah, muncul garis bawah. Di blog teman-teman saya, banyak ditemukan hobi crochet dan knitting. Untuk namanya terdengar asing, tapi melihat karyanya sudah familiar karena saya melihatnya seumur hidup saya. Mbah saya dulu membuat taplak dan alas sandaran kursi menjalin ruang tamu dengan cara crochet. Ibu saya mengembangkan ke bermacam-macam bentuk, mulai dari gantungan kunci hingga tas. Uniknya, mbah tidak pernah mengajari ibu saya crochet. Ibu belajar di PKK kampung. Saya sendiri?

Dengan berat hati saya akui, saya kurang tertarik membuat kerajinan tangan rumit ini. Saya tidak telalu pandai untuk urusan kerapian. Tapi saya senang melihat dan memilikinya. Jaman dulu, tiap ke toko buku, saya selalu sempatkan membuka-buka buku crochet dan knitting. Bentuknya lucu-lucu. Apalagi warna-warnanya selalu pastel, kesukaan saya. Sementara mbah dan ibu sering menggunakan warna-warna solid seperti kebanyakan orang Indonesia. Buku-buku crochet jaman dulu masih didominasi buku Taiwan menggunakan huruf Cina. Jadi saya ngeloyor ke segmen buku itu benar-benar untuk melihat-lihat memuaskan mata saja.

Penyebutan crochet dan knitting sering terdengar beberapa tahun belakangan, tapi kerajinan ini sebenarnya jadul punya, sudah ada sejak jaman noni-noni kumpeni beredar. Sekarang masih popular di Eropa. Kalau teman-teman search "handicraft" di Pinterest, yang keluar adalah foto-foto crochet and knitting lebih dulu sampai panjang, baru setelah itu kerajinan lain. Dahulu crochet dan knitting malah sudah diterjemahkan dengan menyongket dan merajut. Entah mengapa generasi sekarang suka menggunakan English-nya, padahal saya sering kesrimpet. Crochet diterjemahkan dengan menyongket. Jadi menyongket itu bukan proses membuat kain songket, karena proses membuat kain songket disebut dengan menenun. Entah bagaimana menurut KBBI.

Beda menyongket dan merajut terletak di alatnya. Menyongket menggunakan satu hook (mbah saya menyebutnya hakpen, setelah saya cek di wikipedia ternyata itu bahasa Belanda, haakpen), sedangkan knitting menggunakan dua atau lebih jarum besar seperti sumpit. Merajut juga bisa dilakukan dengan mesin.

Hasil produk rajutan di pasaran yang termurah adalah gantungan kunci berbagai bentuk. Ini dikerjakan dengan sistem borongan oleh ibu-ibu. Banyak juga yang membuat dan menjualnya secara individu di blognya. Beberapa tahun lalu, di Jogja dan Surabaya booming tas rajut. Nah, kalau itu dikerjakan oleh mesin sehingga hasil rajutannya lebih kuat dan kencang. Kalau teman-teman ke Bukittinggi, di Pasar Seni dekat Goa Jepang, ada deretan penjual rajutan dengan warna-warna natural ala jaman kolonial. Bentuknya macam-macam, dari semacam pasmina, sarung bantal sampai bed cover (yang selembar tipis tanpa lapisan dacron). Waktu saya kesana, saya beli satu set sarung bantal + taplak seharga Rp 250.000,- untuk oleh-oleh.

Jika teman-teman tertarik untuk mempelajarinya, sekarang banyak toko benang yang memberi kursus crochet and knitting di hari tertentu. Komunitasnya juga banyak dan kadang melakukan pertemuan rutin atau mengadakan berbagai tantangan untuk mengisi kegiatan. Googling saja.

Repost dari www.burselfwoman.com
Share on Google Plus

About Lusi T

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment

Maaf komentar dimoderasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.