Bambu Yang Tak Sepopuler Rotan

Sudah lama saya ingin menulis artikel tentang bambu ini, sayang dasarnya hanya perasaan saya saja sebagai penjual kerajinan. Saya tidak memiliki pengetahuan dasar tentang bambu, demikian pula data yang menyatakan bahwa kerajinan bambu memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kayu dan rotan. Pemerintah dan asosiasi sedemikian gigih mengatur dan memperjuangkan perkembangan komoditi kayu dan rotan.

Pengetahuan saya tentang bambu hanya sebatas tentang sentra-sentra bambu seperti Tunggak Semi didaerah Jogja kea rah Wonosari. Produknya sendiri terbatas untuk peralatan rumah tangga, hiasan dan furniture yang modelnya itu-itu juga, tidak ada terobosan. Jika ke pameran-pameran kerajinan seperti Inacraft, Indocraft atau Crafina, produk berbahan bambu ini sangat sulit dicari.

Untuk ekspor, saya pernah mendapat cerita dari rekan saya, betapa sulitnya hanya untuk meloloskan satu pancuran bambu saja. Buyer asing itu tidak hanya melihat tampilan pancuran yang eksotis itu saja, tetapi juga mengetes ketahanan bambu tersebut layaknya crack test pada beton. Selain itu, buyer juga menyerahkan satu daftar bahan kimia harus digunakan sebagai bahan perendam untuk menjamin bambu itu tidak berjamur dan berbubuk selama perjalanan didalam kontainer yang lembab dan dalam waktu yang lama di negara buyer yang bermusim berbeda.

Saya juga sempat bertanya pada beberapa asosiasi mengapa bambu tidak sepopuler kayu dan rotan. Sayang tidak ada yang punya cukup waktu untuk menjawab pertanyaan orang yang tidak penting seperti saya. Akhirnya, saya lakukan apa yang orang modern lakukan, yaitu browsing.

Seperti dugaan saya, permintaan kerajinan dari bambu memang tidak terlalu menggembirakan. Sebab utamanya dari sisi pengrajin adalah treatment bahannya. Karena pengrajin masih kesulitan dengan treatment bahannya, membuat pengrajin belum beralih ke eksplorasi design. Dengan design yang tidak berkembang, membuat konsumen-pun tidak banyak pilihan dan lama-lama juga enggan.

Didunia, raja bambu tentusaja negara tirai bambu, Cina. Mengejutkan sekali ternyata treatment mereka tidak macam-macam, melainkan hanya merendamnya di sungai untuk waktu tertentu. Teknologi sederhana yang mungkin bisa kita pelajari dengan mengirim orang-orang pandai Indonesia kesana untuk belajar dan mengaplikasikannya di Indonesia.

Bambu tumbuh dengan mudah di Indonesia dan Indonesia memiliki sungai yang jumlahnya mungkin mampu mengimbangi produksi bambu. Peraturan internasional yang berhubungan dengan bambu juga tidak serumit kayu. Namun kita lebih memilih jalan termudah dan menghasilkan uang lebih banyak, yaitu chop, sail and sale. Tebang pohon, kirim lewat sungai dan jual.

Jadi apa yang membuat bambu tidak sepopuler kayu dan rotan? Tamak, tidak peduli dengan lingkungan dan tidak mau sedikit kreatif seperti Cina. Mentri Ekonomi Kreatif mungkin bisa memberi terobosan.

Repost dari www.burselfwoman.com
Share on Google Plus

About Lusi T

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment

Maaf komentar dimoderasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.