Bahan Serat Alam Tidak Awet?

Dalam postingan “Pandan Untuk Kerajinan” kemarin, Ade Anita menceritakan pengalaman buruknya memiliki tikar pandan di kolom komentar. Memang benar, salah satu kendala semua bahan baku alam adalah sifat reaktifnya terhadap sekitar. Jika lingkungan lembab, maka jamur akan cepat berkembang biak. Jika proses preventif tidak berhasil, maka hama atau serangga menyerbu. Namun demikian, alangkah sayangnya jika itu membuat kita menyerah dan mengandalkan plastik dalam keseharian kita.

Produk kerajinan yang sudah diekspor juga tak bisa menghindar dari kendala tersebut. Beberapa kenalan pengusaha di Jogja pernah terkena reject sampai satu kontainer karena jamur. Tapi itu tidak membuat permintaan akan produk berbahan serat alami berkurang. Paling-paling buyer tersebut akan berpindah supplier atau produsen yang lebih bisa mengontrol kualitas produk yang dikapalkan. Produk ramah lingkungan sudah menjadi gaya hidup masyarakat negara-negara maju, karenanya permintaan terus meningkat.

Perlakuan produk berbahan serat alam agak berbeda antara yang dijual didalam negeri dengan yang diekspor. Produk ekspor memerlukan penanganan lebih detil karena misalnya untuk mencapai Eropa, produk-produk tersebut akan berada dalam kontainer selama sebulan. Kemungkinan rusak akibat perbedaan suhu dan kelembaban dari negara tropis ke negara subtropis sangat besar terjadi. Apalagi jika ada serangga yang masuk ketika proses loading ke kontainer dilakukan.

Saya pernah terkejut juga ketika hendak mengirimkan satu kotak jam Ladaka Handicraft yang berukuran 30x10x8 cm via kurir nasional ke Brunei, dimintai biaya fumigasi Rp 750.000,-, belum termasuk ongkos kirim. Saya langsung ngakak, tapi paham kalau mbak cantik tersebut tidak mengerti bahwa fumigasi tersebut untuk satu kontainer! Iya mbak, satu kontainer! Akhirnya, pesanan tersebut saya kirim melalui PT Pos dan hanya dikenakan biaya Rp 110.000,- sampai alamat.

Proses pengolahan serat alam sampai menjadi produk jadi itu sebenarnya sangat panjang, melalui perebusan dan penjemuran. Bisa dibaca lagi disini. Tapi nyatanya jamur dan serangga tetap saja menjadi pengganggu. Nah, untuk perawatan sehari-sehari, bisa diperhatikan hal-hal seperti ini:

1. Letakkan di tempat kering. Ini mutlak. Jika lembab sedikit, jamur akan tumbuh. Apalagi jika basah seperti tikar pandan Ade, pasti serangga yang serem-serem datang.

2. Jika kotor, dilap atau disikat saja. Jika terpaksa menggunakan lap basah, jangan lupa diangin-anginkan. Menjemur di terik matahari langsung bisa menyebabkan warna pudar, bahkan bentuknya bisa berubah (melengkung karena stretch).

3. Untuk penyimpanan, gunakan pembungkus yang menyerap air, misalnya spunbond yang biasa digunakan sebagai packaging tas-tas bermerk atau kertas semen. Jangan membungkus dengan plastik karena jika suhu ruangan tidak mendukung, plastik menyebabkan keringat dan basah. Jamur bisa tumbuh.

Untuk produk ekspor, proses pengeringan dilakukan dengan sangat cermat hingga benar-benar kering seluruh bagian. Proses coating (pelapisan dengan cairan kimia) juga dilakukan dengan sangat teliti. Apalagi coating oil-based yang sebenarnya lebih manjur tidak diijinkan karena tidak ramah lingkungan. Bahan kimia yang diijinkan adalah yang water-based. Perlindungan akhir adalah melalui fumigasi.

Fumigasi berasal dari kata “fume” atau pengasapan untuk membinasakan hama yang mungkin terbawa masuk saat loading. Fumigasi dilakukan ketika semua produk sudah tertata rapi didalam kontainer. Sebelum produk masuk ke kontainer, terlebih dilakukan pengecekan apakah ada bagian-bagian yang bocor. Kebocoran akan membuat suhu ruang berubah-ubah selama sebulan perjalanan dan mempengaruhi kualitas produk. Belum lagi jika ada air yang masuk. Selain itu fumigasi akan sia-sia saja jika bocor keluar.

Fumigasi dilakukan oleh jasa fumigasi yang bisa mengeluarkan sertifikat karena nantinya sertifikat ini akan dikirim ke konsumen. Dalam sertifikat tersebut dicantumkan prosedur yang telah dilakukan dan bahan kimia yang digunakan. Prosedur tersebut harus mengikuti peraturan internasional dan peraturan negara tujuan (berdasarkan permintaan buyer). Setelah fumigasi selesai, kontainer ditutup dan disegel. Segel ini tidak boleh dibuka sampai negara tujuan. Jika dibuka, selain bisa meracuni pembuka yang tidak mengerti prosedurnya, juga harus dilakukan fumigasi ulang. Nah, dulu tugas saya termasuk menyegel kontainer sebelum berangkat ke negara tujuan. :D

Bagaimana jika barang-barang kita telanjur rusak karena jamur atau serangga lainnya sehingga sulit dibersihkan? Buang saja, alam akan menyerapnya dengan baik karena merupakan produk ramah lingkungan, lalu beli yang baru. Heheheee....

Repost dari www.burselfwoman.com
Share on Google Plus

About Lusi T

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment

Maaf komentar dimoderasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.