Kerajinan Koran Bekas

Dalam sebuah acara UKM di suatu daerah, salah satu peserta membawa tempat pensil dari koran bekas (recycled paper). Secara fungsional memang bisa digunakan untuk meletakkan beberapa pena, tapi secara estetika sebenarnya belum layak jual karena tidak rapi dan lemnya belepotan. Tanpa bermaksud berprasangka buruk bahwa produk tersebut dipaksakan agar bisa hadir dalam acara tersebut, saya melihatnya sebagai keinginan pemiliknya untuk tampil agar bisa melihat perkembangan sesama pemilik usaha sejenis dan lalu memperbaikinya.Sebenarnya, jika beliau mau googling (sangsi apakah beliau akrab dengan internet) banyak contoh kerajinan koran bekas yang bagus-bagus di beberapa kota di Indonesia. Koran bekas sebagai bahan dasar, mudah diperoleh di kota-kota besar. Tapi, sebagai produk, di kota-kota besar masih dikerjakan di rumah-rumah sebagai kegiatan ibu-ibu atau komunitas. Penjualannya pun masih banyak yang bersifat eksebisi.

Koran bekas sebagai produk kerajinan sudah dikenal bertahun-tahun lalu dipinggiran Jogja. Mengapa di pinggiran, bukan dikotanya? Karena disitu tinggalah para pengrajin kelas dunia yang mengerjakannya secara massal untuk ekspor. Hasil pekerjaan mereka sangat rapi karena harus melalui quality assurance yang sangat ketat.

Koran bekas yang kita kiloin (sekilonya Rp 5.000-Rp10.000 kalau nggak salah heheheee) diubah menjadi berbagai kerajinan seperti keranjang, vas, pigura, tempat payung dan sebagainya. Metode pengerjaannya bermacam-macam, ada yang ditempel, dianyam atau diuntir lebih dulu sebelum dibentuk seperti foto diatas. Untuk menambah aksen, bisa ditambahkan kulit sintetis, stainless steel, mendong dan lain-lain sebagai pegangan atau aksesoris.

Kerajinan seperti ini nyaris tidak bisa ditemui di toko-toko di Indonesia. Kalaupun ada, kebanyakan hanya sebagai kotak penyimpanan yang simple? Kok begitu ya? Karena selera konsumen Indonesia memang masih menyukai produk berbahan lebih awet seperti plastik. Produk daur ulang, apalagi dari koran bekas, kurang diminati. Dalam suatu pameran dalam negeri yang diikuti teman saya contohnya, belum-belum para ibu sudah komplain tentang kemungkinan keranjang tersebut terkena air dan hancur. Padahal memang tidak berniat membeli, cuma mau ngomelin penjaganya saja hahahaaa....

Produk kreatif, apalagi yang memanfaatkan limbah, memang masih perlu perjuangan panjang di negeri ini. Setiap hari media mengabarkan inovasi-inovasi kerajinan baru dari bahan daur ulang. Semoga makin banyak masyarakat yang menerima produk-produk seperti ini dirumah-rumah mereka, bukan hanya sebagai produk kebanggaan bangsa saja. :D

Repost dari www.burselfwoman.com
Share on Google Plus

About Lusi T

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment

Maaf komentar dimoderasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.