Serat Alam

Serat alam atau yang sering menggunakan nama beken natural fiber, adalah serat yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Namanya serat, maka bentuknya bersulur-sulur seperti benang.  Untuk mendapatkan bentuk serat, diperlukan beberapa tahap pemrosesan tergantung dengan karakter bahan dasarnya.

Jenis-jenis serat dari tumbuhan antara lain yang berbahan kapas, pelepah pisang, enceng gondong, rami, mendong dan sebagainya. Sedangkan serat dari hewan misalnya wool, sutra dan bulu burung. Untuk keperluan industri,nama-nama itu sering disebutkan dengan bahasa Inggris atau bahasa Latin-nya, serat banana, cotton, agave, coconut dan sebagainya.

Proses dari bahan baku menjadi serat, bermacam-macam sesuai tekstur dan terutama kandungan airnya. Cotton misalnya, prosesnya tidak terlalu berat namun dibutuhkan dana labih banyak untuk membeli peralatan  berteknologi modern untuk proses pemintalan. Sedangkan pengolahan enceng gondok bisa menggunakan alat pemipih buatan sendiri. Hanya saja karena kandungan airnya cukup banyak, maka prosesnya memakan waktu cukup lama untuk proses pengeringan. Setelah itu, serat-serat tersebut akan dipilin, ditenun, dikepang dan sebagainya agar kuat untuk dibentuk sesuai dengan yang direncanakan.

Serat alam digunakan untuk membuat berbagai produk seperti baju, aksesoris rumah, bahkan meubel. Cotton, sutra dan wool yang berserat lembut, digunakan untuk membuat baju. Serat yang berasal dari rumput-rumputan yang lebih tipis, cocok untuk membuat dekorasi rumah maupun tas. Sedangkan serat dari tanaman yang lebih kuat seperti enceng gondok, bisa digunakan untuk membuat meja kursi atau storage boxes seperti artikel sebelumnya.

Untuk dalam negeri, meskipun bahan bakunya berlimpah, namun penggunaan serat alam untuk berbagai kebutuhan kalah populer dengan negara maju lain, bukan semata-mata karena harganya mahal namun juga karena kalah awet dibanding polyester atau plastik. Kesadaran menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan kurang tersosialisasi dengan baik. Harga produk yang menggunakan bahan serat alam cendurung lebih mahal walaupun untuk beberapa jenis selisihnya tidak signifikan, karena prosesnya yang membutuhkan waktu lebih lama dan lebih panjang. Pengerjaan serat alam juga masih banyak dilakukan secara manual oleh manusia, sehingga komponen upah juga berperan pada harga.

Sekiranya lebih banyak lagi teknologi untuk mengolah serat alam, mungkin rumput-rumputan yang banyak terdapat di Indonesia bisa dimanfaatkan untuk memenuhi gaya hidup masyarakat Indonesia. Dengan harga yang lebih murah, mungkin tidak ada yang keberatan jika lebih sering membeli yang baru dibandingkan jika menggunakan bahan sintetis. Idealnya masyarakat kita membeli produk berbahan serat alam bukan karena harganya, tapi karena fungsi, penampilan dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Sayangnya, pemikiran ideal seperti itu masih berada dalam masyarakat yang sudah tidak memikirkan perut.

Sumber: www.burselfwoman.com , 20 Mei 2011
Share on Google Plus

About Lusi T

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment

Maaf komentar dimoderasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.