ATBM, Bukan ATMP, Apalagi ATM

ATBM adalah singkatan dari alat tenun bukan mesin atau alat tenun yang digerakkan oleh tenaga manusia. Alat ini umumnya terbuat dari kayu dan digunakan di industri rumahan atau industry kecil karena hemat energi. Kesulitannya adalah semakin sedikit orang yang terampil menggunakan alat ini. Untuk mencapai hasil maksimal, perlutenaga sekuat laki-laki tapi tingkat ketelitian ibu-ibu karena settingan benang-benangnya yang rumit.ATBM masih banyak dijumpai di seluruh pelosok nusantara dengan beribu-ribu variasi hasil tenunan. Namun yang terbanyak adalah yang terdapat di sentra-sentra kerajinan seperti Pekalongan, Jogja, Klaten dan Tasikmalaya. Maaf, data ini tidak valid, hanya informasi yang saya ketahui dari sesama pengrajin dan kenalan.

Di sentra-sentra tersebut, ATBM tidak selalu dioperasikan di pabrik-pabrik tapi juga dengan cara maklun, dimana mesin tersebut di setting dirumah tukang tenun. Bahan tenun disupply oleh pemilik mesin dan pada hari yang telah disepakati hasil tenunan diambil. Upah ditentukan dari berapa meter tenun yang dihasilkan. Dengan system ini, tukang tenun tidak perlu meninggalkan rumah dan para pemilik mesin juga bisa menghemat upah karyawan dan biaya operasional pabrik.

Beberapa hari lalu saya chatting tidak nyambung dengan teman saya yang menawarkan hasil tenunan ATBM produksi keluarganya. Di Pekalongan, jika mengatakan ATBM itu langsung terhubung dengan bahan kain karena Pekalongan adalah sentra garmen. Padahal, jika bicara dengan konteks Jogja atau Tasikmalaya, itu bisa saja berupa tenunan serat alam.

Secara teknis, saya tidak bisa menjelaskan karena cukup rumit. Tapi saya pernah mengurusi beberapa puluh ATBM milik seseorang di Jogja dengan bahan katun untuk ekspor kordin. Setelah krisis, kami hanya mengambil tenun serat alam yang sudah jadi di sentra ATBM untuk membuat storage box. Namun, kadang saya merindukan suara ketukan kayu-kayu ATBM.

Secara tradisional kami menyebut jenis-jenis ATBM sebagai injakan 2, 3, dan seterusnya. ATBM digerakkan menggunakan tangan dan kaki sehingga memerlukan koordinasi yang baik. Benturan-benturan kayu dari tangan dan kaki inilah yang menghasilkan suara yang khas. Anyaman dihasilkan dari silangan lusi dan pakan yang jaraknya diatur oleh gun.

Untuk produksi kain, benang katun menghasilkan kain yang lembut dan tebal, sesuai untuk ekspor. Namun seperti kebiasaan kita membunuh diri, kemudian muncul utak atik menggunakan campuran nilon untuk menghasilkan harga yang murah. Jika ini dijual dipasar lokal, mungkin tidak terlalu berpengaruh. Yang menjadi masalah, ketika tenun ATBM masih booming adalah banyak yang curang memasukkan spek campuran  agar harga bisa masuk dan mendapatkan kontrak pembelian.  Padahal itu secara perlahan namun pasti menurunkan kredibilitas kita sendiri.

Untuk bahan dari serat alam, perbedaaan jenis-jenis tenunan bisa diamati dari jumlah benang yang mengikat ganjil dan genap. Paling jelas terlihat pada tenun lidi.

Jika di sentra-sentra kerajinan hasil ATBM berusaha ditekan serendah mungkin untuk produksi massal dan menghadapi persaingan usaha yang sangat ketat, tidak demikian di daerah-daerah seperti di Sumatra. Tenun songket misalnya, merupakan prestise adat, sehingga penenunannya masih sangat hati-hati, memperhatikan pakem motif dan menggunakan benang terbaik. Hasilnya memang sangat mahal, namun keindahan dan keagungannya terjaga.

Demikian sedikit tentang ATBM, jangan salah dengan ATPM alias Agen Tunggal Pemegang Merk, apalagi ATM alias Anjungan Tunai Mandiri. Tapi jika anda ingin membeli produk ATBM, nah ke ATM dulu sana. Heheee….

Sumber: www.burselfwoman.com 7 Mei 2012
Share on Google Plus

About Lusi T

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment

Maaf komentar dimoderasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.