Jarik, Dari Lahir Sampai Mati

Ketika mengikuti aktifitas para relawan melalui twitter, banyak permintaan jarik dari beberapa posko. Dari berbagai daerah bencana di Indonesia, hanya wilayah bencana di Yogya dan Jawa Tengah yang memasukkan jarik dalam daftar kebutuhan pengungsi.

Jarik dalam kehidupan masyarakat Jawa, ada dari lahir sampai mati. Ketika bayi lahir, jarik dugunakan sebagai alas tidur dan gendongan. Memang sekarang banyak yang menggunakan kain bedong yang lebih kecil untuk alas tidur sehingga bisa sering berganti dan jika dicuci lebih cepat kering. Namun masih banyak yang tetap menggunakan jarik karena lebih adem di badan si bayi. Gendongan bayi juga sudah tersedia di pasaran dalam berbagai bentuk, ada yang untuk gendong miring, ada yang seperti ransel. Namun tak sedikit ibu-ibu yang nyaman menggunakan jarik sebagai gendongan karena bayi bisa meringkuk lebih nyaman dalam gendongan jarik. Selain itu walaupun sudah lama kita mengenal kimono, ibu-ibu yang barusaja melahirkan lebih menyukai memakai jarik supaya sikap tubuh terjaga dan mempercepat pemulihan. Di desa-desa, jarik juga digunakan sebagai basahan alias penutup tubuh perempuan dari dada kebawah ketika mandi di sungai.

Jarik adalah kain berukuran 2,5x1,1 meter atau 2,1x1,5 meter yang dibatik dengan berbagai motif seperti sidomukti, sidomulyo, sekar jagad, parang rusak, dan sebagainya. Tiap motif memiliki arti tersendiri disesuaikan dengan acara ketika jarik itu dikenakan dan status sosial penggunanya. Fungsi utama jarik adalah sebagai penutup tubuh bagian bawah. Makna jarik adalah aja gampang serik atau jangan mudah iri. Dengan memakai jarik, orang akan berhati-hati berjalan, tidak grusa grusu. Saat ini jarik digunakan sesuai dengan fungsi dan filosofinya hanya di acara mantenan Jawa dan acara keraton. Sedangkan jarik digunakan sesuai fungsinya saja masih banyak digunakan oleh simbah-simbah atau orang-orang tua tanpa memperhatikan makna motifnya. Jarik untuk simbah inilah yang banyak diminta oleh para relawan.

Jarik yang banyak dipakai simbah ini banyak dijual dipasar-pasar rakyat. Harganya murah, tidak sampai Rp 20.000. Saya pernah berbicara dengan seorang nenek di Yogya, yang katanya akan menggadaikan jariknya. Saya baru tahu jarik bisa digadaikan. Benarkah? Namun demikian tentu ada beberapa level harga jarik sesuai dengan kualitas kain dan proses pembuatannya. Jarik yang berupa batik tulis bisa dihargai Rp 400.000 per lembar.

Jarik juga digunakan untuk menutup hidup manusia. Jika orang Jawa meninggal, maka disiapkanlah jarik untuk menutup jenazah ketika dimandikan, menutup alas kasur jenazah setelah dimandikan dan menutup jenazah yang siap untuk dimakamkan.

Saya sendiri suka menggunakan jarik sebagai selimut karena adem dibadan. Jarik, hanya selembar kain batik, namun ada dari manusia Jawa lahir sampai mati.

Sumber: http://burselfwoman.com/2010/11/jarik-dari-lahir-sampai-mati/
Share on Google Plus

About Lusi T

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 comments :

Post a Comment

Maaf komentar dimoderasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.